Tingkatkan Kompetensi Calon Guru MI, Sanggar Tari HMP PGMI IAI Sunan Giri Gelar Pelatihan

Eksistensi pendidikan tidak dapat terlepas dari adanya lembaga-lembaga pendidikan salah satunya adalah Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI). Pendidikan seni tari adalah salah satu materi yang termuat dalam mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan.

Sebagai seorang calon pendidik maka diperlukan pengetahuan tentang seni untuk anak usia SD/MI. Melihat hal itu, Sanggar Tari Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Instisut Agama Islam (IAI) Sunan Giri Bojonegoro berupaya menggelar Pelatihan Tari Thengul untuk para mahasiswa PGMI.

Dalam hal ini, Ketua Prodi PGMI IAI Sunan Giri, M. Romadlon Habibullah mengatakan, Seni Tari dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan SD/MI, mempunyai dampak yang positif, bukan saja bagi upaya pelestarian seni tari, akan tetapi juga untuk kepentingan pendidikan itu sendiri.
“Keterampilan seorang guru dalam memahami karakteristik anak usia itu sangat diperlukan dalam menyampaikan materi ini,” ujar Roma, sapaan karibnya. Dilanjut, kegiatan apresiasi ini merupakan stimulus bagi para calon guru MI untuk mengembangkan potensi serta meningkatkan kualitas diri menjadi calon guru MI yang multitalent. “Karena, keterampilan seorang guru dalam memahami karakteristik anak usia SD/MI sangat diperlukan dalam menyampaikan materi-materi pendidikan, salah satunya pendidikan seni tari,” lanjutnya.


Amalia Handini, selaku Koordinator Sanggar Tari HMP PGMI IAI Sunan Giri Bojongoro menyampaikan, untuk pelatihan tari kali ini dirinya memilih Tari Thegul sebagai tari utama yang harus betul dikuasai. 
“Sebab, Tari Thengul sendiri adalah tarian tradisional yang terinspirasi Wayang thengul dari Bojonegoro,” jelasnya.
Tari Thengul juga merupakan tarian kreasi yang diciptakan selain untuk seni, juga sebagai wujud apresiasi dan upaya untuk mengangkat kembali kesenian Wayang thengul yang hampir tenggelam seiring dengan perkembangan zaman.

Thengul, tarian dengan ciri khas mimik wajah seperti wayang thengul, gerakan patah-patah dan hentakan ini merupakan tarian tradisional yang terinspirasi dari Wayang Thengul asal Bojonegoro, Jawa Timur. Tarian ini biasanya dipentaskan oleh penari secara berkelompok dengan gerakan, ekspresi, dan kostum yang menyerupai Wayang Thengul. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro kini tengah berupaya menggebrak dan menggencarkan kembali Thengul menjadi salah satu icon daerah. Upaya tersebut membuahkan hasil yang membanggakan bagi masyarakat Bojonegoro, karena Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menetapkan Thengul sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.

Dalam pelatihan ini tidak hanya diselenggarakan satu kali pertemuan saja, melainkan empat kali pertemuan. Yang dilaksakan di bulan Desember 2019 ini setiap hari Jumat di Aula Maarif IAI Sunan Giri setempat.
“Setelah Tari Thengul, Sanggar Tari HMP PGMI IAI Bojonegoro juga akan terus melakukan pelatihan-pelatihan tari daerah lainnya. Seperti tari Saman, Topeng, Kecak dan lain sebagainya,” tutupnya.

[PGMI-UPDATE]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *